Monday, April 11, 2016

BERTHOLD SINAULAN RAIH PENGHARGAAN DARI KEPANDUAN ASIA PACIFIC



Merupakan kabar gembira bagi ISJ- Indonesia Scout Journalist, karena Salah satu Pendirinya, Berthold Sinaulan mendapat Penghargaan dari Kepanduan Asia Pacific. Tentu disambut dengan suka cita, karena kegigihannya, kini mendapat konseksuensi seimbang berupa penghargaan yang sangat bermartabat. Selamat dan bahagia juga dirasakan oleh pramuka di seluruh Nusantara tercinta. Suatu contoh langka yang harus didokumetasikan dengan sempurna. Selamat Kak Berthold Sianulan, jasa dan kebaikanmu akan dikenang sepanjang zaman.
..........Berita lengkapnya dalam edisi Indoensia dan Inggris: 
Pembina Pramuka Indonesia Raih Penghargaan Asia-Pasifik
Seorang Pembina Pramuka dari Indonesia, Berthold Sinaulan, memperoleh penghargaan kepanduan Asia-Pasifik. Penghargaan berbentuk plakat itu diserahkan langsung oleh Ketua Komite Kepanduan Asia-Pasifik, Paul Parkinson yang berasal dari Australia, didampingi JR Pangilinan, Direktur Regional Kepanduan Asia-Pasifik yang bermarkas di Filipina, di Hotel Borobudur, Jakarta, Senin, 11 April 2016.
Penghargaan itu diberikan di sela-sela pertemuan Komite dan Subkomite Kepanduan Asia-Pasifik yang dihadiri juga oleh Sekretaris Jenderal Gerakan Kepanduan Sedunia (World Organization of the Scout Movement), Scott Teare yang berasal dari Amerika Serikat. Lebih dari 100 wakil-wakil organisasi nasional kepanduan di wilayah Asia-Pasifik hadir dalam pertemuan di Jakarta tersebut.
Penghargaan yang diberikan kepada Berthold Sinaulan disebutkan “to his dedication service to Scouting as Honorary Correspondent of the Asia-Pacific Region of Gerakan Pramuka for the past 20 years”, atau untuk dedikasi pelayanan untuk kepanduan sebagai seorang Koresponden Kehormatan Kepanduan Kawasan Asia-Pasifik dari Gerakan Pramuka selama 20 tahun. Penghargaan tersebut ditandatangani oleh Paul Parkinson dan JR Pangilinan.
Berthold Sinaulan tercatat pertama kali berkontribusi dalam bentuk penulisan dan pengiriman berita tentang kepramukaan di Indonesia dan kepanduan di Asia-Pasifik, sepulang dari mengikuti Konferensi Kepanduan Asia-Pasifik di Singapura, pada 1995. Sejak saat itu, Berthold Sinaulan secara tetap tentu menyebarluaskan informasi kepramukaan melalui berita, artikel, dan foto. Baik di media cetak, jurnal Kepanduan Asia-Pasifik, maupun melalui media online dan media sosial.
Selain sebagai Koresponden Kehormatan Kepanduan Asia-Pasifik, Berthold SInaulan juga aktif dalam berbagai kapasitas sejak 1995 itu. Misalnya, Wakil Ketua Subkomite Manajemen Kepanduan Asia-Pasifik periode 2012-2015, dan anggota Panel Spesialis Kepanduan Asia-Pasifik sejak 2012.
Berthold Sinaulan juga merupakan orang keempat di Indonesia yang memperoleh penghargaan berupa medali Asia-Pacific Region Scout Chairman’s Award. Di samping berbagai penghargaan kepramukaan dari dalam dan luar negeri. Termasuk dua kali memenangkan Piala Presiden RI untuk Karya Jurnalistik Kepramukaan Terbaik pada 1990 dan 1992.
Saat ini, Berthold Sinaulan bersama sejumlah sahabat, Djoko Adi Waluyo, Harmidi, R Andi Widjanarko, dan Taufik Umar Prayoga, mendirikan komunitas Indonesia Scout Journalist (ISJ). Komunitas ini terdiri dari para Pramuka yang senang dan ingin mengembangkan diri dalam dunia jurnalistik, maupun jurnalis atau wartawan yang senang Pramuka.
Tujuan dibentuknya komunitas tersebut adalah untuk menyebarluaskan informasi-informasi tentang kepramukaan di Indonesia dan kepanduan secara luas, sehingga masyarakat lebih memahami betapa pentingnya kepramukaan sebagai gerakan pendidikan yang membantu membentuk watak dan karakter kaum muda, menjadi manusia yang berguna, mandiri, dan selalu memberikan kontribusi positif pada masyarakat.(Indonesia Scout Journalist)


Indonesia Scout Leader Conferred with the Asia-Pacific Award
A Scout leader of Indonesia, Berthold Sinaulan, conferred with the Asia-Pacific Scouting award. The award were handed over by the Chairman of the Asia-Pacific Regional (APR) Scout Committee, Paul Parkinson from Australia, accompanied by JR Pangilinan, Regional Director World Scout Bureau/APR at the Hotel Borobudur, Jakarta on Monday, 11 April 2016.
The award was given in the breaktime of the APR Scout Committee and the Subcommittee meeting in Jakarta from 9 to 12 April 2016, which was also attended by the Secretary General of the World Organization of the Scout Movement, Scott Teare originating from the United States. More than 100 representatives of national scouting organization in the Asia-Pacific region attended the meeting in Jakarta.
The award is given to Berthold Sinaulan to his dedication service to Scouting as Honorary Correspondent of the Asia-Pacific Region of the Scout Movement for the past 20 years. The award was signed by Paul Parkinson and JR Pangilinan.
Berthold Sinaulan first contribution of sending information about Scouting in Indonesia and in the Asia-Pacific region, following his the return from the APR Scout Conference in Singapore in 1995 as an observer in Gerakan Pramuka delegation. Since then, Berthold Sinaulan regularly would disseminate information through the scouting news, articles, and photos. Either printed, electronic, or online news, including through social media.
Aside from being a honorary correspondent for the APR Scouting, Berthold Sinaulan also active in various capacities in the APR Scout since 1995. For example, Vice-Chairman of the APR Scout Management Subcommittee  for the period 2012-2015, and a member of the APR Scout Specialist Panel since 2012.
Berthold Sinaulan also a fourth person in Indonesia to obtain the APR Scout Chairman's Award in Indonesia. Also numerous awards scouting from home and abroad. Including twice winning the Trophy President  of the Republic of Indonesia for Best Journalist in Scouting in 1990 and 1992.
Currently, Berthold Sinaulan with some friends, Djoko Adi Waluyo, Harmidi, R Andi Widjanarko, and Taufik Umar Prayoga, established a citizen journalist community called as the Indonesia Scout communities Journalist (ISJ). This community consists of the Scouts who are  want to develop themselves in the world of journalism, as well as journalists or reporters who likes to spread Scout news.
Purpose of the establishment of the community is to disseminate information about Scouting in Indonesia and widely, so that people can have better understanding of the importance of Scouting as an education movement that helped form the character of young people,  being useful, independent, and always make a positive contribution in the society.(Indonesia Scout Journalist)

Monday, March 21, 2016

SEJARAH PRAMUKA

SEJARAH PRAMUKA:
Jasmerah, jangan sekalai-kali melupakan sejarah, itu sebuah kata bijak yang memberi peringatan kepada kita. Hanya orang yang "ahistoris", tidak menapak bahagia dan cenderung ceroboh. Sejarah mengajar kita berbagai hal, mulai dari persoalan rang sepele alias remeh temeh, ke persoalan yang maha pelik bin rumit. Tentu orang dengan kekuatannya akan menilai, bila sejarah membuat kita ingat proses dan ingat akan daya juang. Pramuka juga harus akarb dengan sejarahnya, sehingga tidak akan mudah luluh lantai dan hilang dari pusaran memeory yang luas. Koleksi pribadi Kafe Buku Pak Aw, banyak menyimpan serpihan sejarah kepanduan yang terawat sehat. Kelak dapat dijadikan rujukan bila sedang meneliti atau meninjau ulang perjalanannya
.

BUKU PRAMUKA SEORANG JENDERAL

PAGI KAGUM : (Seorang Jendral Senang Menulis)
Tono Suratman, adalah seorang - orang Jenderal berpangkat Mayor Jenderal yang gemar menulis. Ada tiga buku yang sempat Kafe Buku Pak Aw buku koleksi (1) Untuk Negaraku, Pustaka Sinar Harapan, 2007 (2) Patriotisme Semangat Bela Negara, Pustaka Sinar Harapan, 2008. dan yang ketiga Pramuka Pilar Tangguh Generasi Muda.Pernah mendapat penghargaan SAHAMETREI dari Primier Ministre Hun Sen, Kampuchea, serta menerima Honorouble Wing Badge Regards dari Pemerintah Thailand. Karya beliau yang terkait dengan pramuka sangat bagus, berisikan motivasi membangun semanagat kebangsaan, dan tanggung jawab Pramuka terhadap bangsa dan negaranya. Buku tersebut dicetak di atas kertas yang bagus dan Full Color. Selamat kak Jenderal.

Sunday, February 28, 2016

INDONESIA SCOUT JOURNALIST - Berthold Berty Sinaulan

Ada Apa dengan ISJ?
ISJ adalah singkatan dari Indonesia Scout Journalist, komunitas pewarta Pramuka yang terbuka bagi Pramuka maupun non-Pramuka. Tujuan dibentuknya ISJ adalah untuk membangkitkan minat jurnalistik di kalangan anggota Pramuka, dan juga membangkitkan minat para pewarta non-Pramuka untuk lebih banyak memberitakan dan mempublikasikan berbagai hal yang terkait aktivitas kepramukaan.

Sasarannya, agar lebih banyak publikasi terkait aktivitas kepramukaan yang menyebar di kalangan masyarakat. Sehingga masyarakat lebih mengenal dan senantiasa teringat tentang kepramukaan. Bukan sekadar kegiatan ekstrakurikuler di sekolah-sekolah, tetapi banyak lagi kegiatan kepramukaan lainnya. Lewat cara itu, diharapkan meningkatnya apresiasi masyarakat terhadap Gerakan Pramuka maupun “dunia” kepramukaan umumnya.

Seperti kata pepatah “tak kenal maka tak sayang”, maka dengan semakin dikenalnya Pramuka, diharapkan masyarakat semakin sayang pada Pramuka. Bila telah sayang, tentu masyarakat akan ikut menjaga dan tak segan membantu kegiatan-kegiatan kepramukaan, yang membantu membentuk karakter anak dan remaja menjadi manusia yang lebih baik.

Itulah awalnya ISJ dibentuk oleh saya seorang Pewarta dan juga Pelatih Pembina Pramuka (Berthold Sinaulan) dengan seorang fotografer yang senang kepramukaan, Kak R. Andi Widjanarko. Belakangan, ikut bergabung pula sebagai pendiri komunitas itu adalah Kak Djoko AW (Surabaya), Kak Taufik Umar Prayoga (Bogor), dan Kak Paklong Pradana atau Kak Harmidi (Kepulauan Riau). Selain Kak Andi Widjanarko, para pendiri komunitas ISJ lainnya masih aktif sebagai anggota Gerakan Pramuka.

Kak Andi Widjanarko kemudian mendesain dan mencetak badge ISJ. Tujuannya sebagai tanda pengenal antaranggota komunitas. Namun karena badge ini bukan badge resmi Gerakan Pramuka, maka sejak awal telah ditekankan tidak boleh dijahit atau dipasang di seragam Gerakan Pramuka. Silakan saja dijahit di rompi, baju lapangan, atau baju lainnya yang bukan seragam resmi Gerakan Pramuka.

Penekanan ini berulang kali ditegaskan, juga untuk menjaga citra ISJ. Jangan gara-gara badge ISJ tertempel di seragam Gerakan Pramuka, nanti ada yang menegur dan mempertanyakan keberadaan ISJ. Hal ini tentunya dapat mengganggu upaya ISJ yang tujuan awalnya untuk membantu Gerakan Pramuka khususnya dan “dunia” kepramukaan umumnya, bisa-bisa karena salah paham justru dianggap “mengacaukan” Gerakan Pramuka.

Ada tiga badge ISJ sejenis, dengan perbedaan pada garis pinggir (border), yaitu ungu, kuning, dan merah. Awalnya, Kak Andi Widjanarko membuat itu hanya untuk melihat perbandingan warna. Namun kemudian diusulkan agar badge ungu dipakai untuk anggota komunitas yang dewasa di atas 25 tahun, lalu badge kuning untuk mereka yang usia SMA dan Perguruan Tinggi, dan badge merah untuk yang lebih muda lagi.

Akan tetapi, muncul fenomena yang patut diutarakan. Tiba-tiba muncul badge ISJ palsu yang tertempel di seragam Gerakan Pramuka. Disebut palsu, karena bukan badge ISJ yang dikeluarkan resmi dari komunitas, namun merupakan badge yang dibuat menyerupai badge resmi dan asli dari ISJ. Dari tiga jenis badge yang dibuat berbeda pinggirnya, ada dua yang dipalsukan, yang pinggir ungu dan pinggir kuning. Sebenarnya hal ini agak mengherankan, kenapa tiba-tiba ada yang membuat badge-badge palsu semacam itu? Apakah hanya untuk sekadar membangga-banggakan diri?

Padahal dari pengamatan, sebenarnya cukup banyak komunitas-komunitas yang terkait dengan aktivitas kepramukaan. Ada komunitas Pramuka Buku Hidup (Prabuhi) yang mengembangkan kegemaran membaca, Scout Riders Indonesia (SRI) yang mengembangkan aktivitas bersepeda motor taat aturan lalu-lintas, Pramuka Peduli Budaya yang mengembangkan kegiatan seni budaya, bahkan juga sebelum itu telah ada komunitas Gugusdepan Online (GOL), komunitas Pramuka yang berdiskusi berbagai hal tentang kepramukaan secara online dengan memanfaatkan media sosial yang ada.

Uniknya, dari komunitas-komunitas yang sudah disebutkan itu, tidak pernah terdengar ada yang memalsukan badge lambang komunitas masing-masing. Justru ISJ yang tergolong komunitas baru karena baru ada sejak 14 Agustus 2015, malah badge-nya sudah dipalsukan.

Fenomena yang patut dicermati ini, semoga dapat pula diatasi sebaik mungkin. Sekali lagi, badge ISJ hanya tanda pengenal bukan tanda jabatan atau tanda pangkat atau tanda penghargaan. Selain itu, cara pemasangannya pun ditegaskan tidak dipasang di seragam Gerakan Pramuka. Pertama, karena anggota ISJ selain Pramuka juga ada yang non-Pramuka. Kedua, karena badge itu bukan badge resmi Gerakan Pramuka.

ISJ hanya ingin membantu mempublikasikan dan mempromosikan Gerakan Pramuka, dan badge yang dibuat – sekali lagi – hanya tanda pengenal biasa. Tidak ada manfaatnya dipalsukan, apalagi dijahit di seragam Gerakan Pramuka. Badge biasa, yang bisa saja kemudian dinyatakan tidak dijadikan lagi badge pengenal, dan diganti dengan badge lain. Kalau sudah begitu, ‘kan repot tiap kali ganti badge, tiap kali pula dipalsukan. Sudahlah.

Friday, February 26, 2016

JAMBORE PRAMUKA 2016 di Cibubur

DEMAM JAMBORE
Sepulang dari tugas mulia, sebagai prajurit yang disegani ini segera menorehkan gagasannya,. Gagasan ingin membuat “miniatur tentara kecil” anak-anak laki-laki yang usianya antara 11 hingga 16 tahun diajak untun “adventure’, pejelajah dengan terbatas. Tentunya memilki maksud hebat, yang menanamkan jiwa kesatria sedari muda belia. Anak-anak tidak boleh lepas dari pengalaman di alam bebas, mencintainya lalu menjaga kelestariannya. Baden Powell sang prajurit itu, ingin anak-anak belia itu kelak menjadi manusia yang manusia, mereka bahagia, sehat, dan trampil dalam “prakarya”. Pengalaman Baden Powell memotret kejadian berbagai kejadian, lalu diputar ulang dengan mengajar anak-anak yang saat ini tidak genap sampai 10 orang, dan lama-lama bertambah yang meminatinya.
Ketika Baden Powell melihat Axis Mundi (temput kumpul) orang-orang suku Kenya –Afrika Selatan, nampak suku itu gembira ria sambil memutari totem sebagai axis mundi mereka. Ketika malam hari tiba mengusir dingin yang menusuk nusuk tulang, mereka mengitari api unggun sambil bernyanyi bersautan, seperti suara canon paduan suara. Pertemuan sukupun (jamboree) sering dilakukan untuk menerawang alam dan saling tukar pengalaman.
Terminologi jambore hingga saat ini diartikan sebagai pertemuan atau ajang pertemuan bukan salah makna, bahkan istilah Jamboree tidak lagi jadi monopoli milik pramuka, semua menggunakan istilah Jambore untuk ajang pertemuan.
Kini Pramuka Indonesia, akan menyelenggarakan Jambore 2016, diladang gladi pramuka Bumi perkemahan Cibubur. Tentu saat ini semuanya sudah demam mempersiapkan diri dengan berbagai upaya. Munculnya badge dengan sarwa warna dan makna telah nampak memenuhi laman sosial media. Badge kontingen telah dilombakan, kepanitian diberbagai kwartir mulai dibentuk, bahkan para pembisnis mulai menghitung-hitung keikutsertaan dengan raihan benefit yang, menggiurkan.
Orang semakin paham bahwa Jambore adalah aktivitas Pramuka yang dapat dijadikan apa saja, bisa berdampak mulia, dan kadang berimbas jadi wahana yang menguntungkan bagia orang lain. Kita akan mulai mengalkulasi berapa jumlah T-Shirt yang nanti hadir di aktivitas ini, lalu berbagai varian pernik-pernik juga akan bertebaran di tengah-tengah perkemahan. Ratusan juta bahkan milyard akan dikeluarkan untuk penghelatan ini. Tentu kita harus memanfaatkan ini, tidak hanya pesta tapi mengisi karakter kesatria para pramuka muda belia.
Sudah pasti, dan akan muncul barter badge antar kontingen, lalu saling menukar kekhasan daerah, berbagi sticker muncul, pernik-pernik menjadi alat tukar yang menyenangkan. Deman semacam ini akan berlangsung lama, bahkan hingga setahun setelah jambore usai berlangsung.
Aktivitas menyenangkan akan tiba, sepulang dari Jamboree ada penyakit baru, yakni menjadikan baju seragam pramuka menjadi kolase tempat memarkir berbagai badge sebanyak-banyaknya. Jangan ditegur mereka masih senang, mereka masih deman, sesungguhnya pramuka itu mempunyai penyakit yang sama, hanya kita yang jarang paham, dan sulit memaafkan.

BADGE INDONESIA SCOUT JOURNALIST DIPALSUKAN

KETIKA BADGE ISJ DIPALSUKAN:

Langkah awal itu bermula, dikreasinya sebuah badge oleh tangan trampil dari ide cerdas, seorang-orang yang secara kebetulan suka akan dunia foto memoto. R. Adi Widjanarko. Dari pernik-pernik pramuka yang dikoleksinya, berbagai item memorabilia yang bertahun tahun dikumpulkannya, juga menjadi pendorong niat lahirnya komunitas Scout Journalist.
Niatan baik itu berbuah, kini banyak orang mengenalnya, badge itu merambah hingga titik terluar Nusantara. Namun juga sempat memunculkan kerikil tajam yang bisa mendorong lahirnya debat panjang, ini karena ada sebuah keunique dikalangan anggota pramuka. Apalagi Pramuka Penggalang, usia yang sangat khas. Penggalang itu sangat “doyan” terhadap simbul-simbul dan badge, dan jangan disalahkan. Baden Powell memang spesial membuat anak usia penggalang gandrung dengan badge, ini fenomena mendunia, bahkan menjadi watak yang khas. Dari watak khas itu mendarah daging hingga mereka beranjak dewasa di usia Rover Scout.
Gandrung badge, atau symbol-symbol, bahkan pramuka dunia gandrung pada scraf, atau yang lainnya. Sifat inilah kadang membuat orang menjadi sewot melihatnya, banyak uniform pramuka dengan pernik pernik yang macam-macam, dan tidak diketahu jluntrungnya.
Rupanya kehadiran badge ISJ juga terimbas, kini badge itu menghiasi seragam pramuka, yang seharusnya tidak demikian. Lalu secara terburu kita mengambil tindakan, dengan teguran keras, jauh dari kesatunan adat kepramukaan. Tidak tidak boleh keliru melihat fenomena ini. Tidak boleh mempresepsikan yang sangat berlebih, pramuka tidak akan hancur berkeping-keping akibat kesalahan memasang badge itu. ........., itu karena kurang paham.
Badge ISJ sangat menarik itu harus diakui, ini telah dilakukan penelitian, dari sisi proporsi, desain, bahkan makna etistikanya. Sangat dahsyat. Bahkan kini telah sengaja dipalsukan oleh beberapa orang-orang yang tidak tanggung jawab, sekarang menjadi badge yang laris manis. Keadaan ini juga terespon oleh para pedagang pernik-pernik pramuka. Tentu kawan-kawan founders tidak bisa serta merta melihat secara keseluruhan, hanya menghimbau adik-adik, lalu menjelaskannya.
ISJ hadir dengan niatan yang baik, ikhlas, jujur ingin menjadi komunitas yang ULUR TANGAN, bukan CAMPUR TANGAN. Semunya demi Praja Muda Karana, agar maxima menyedot mata dunia.
Tidak terbersit apa, apa, kami semua menghormati pramuka, itu jika kami diizinkan mengabdikan diri dengan penuh suka dan relanya kami. Jika itu masih terjadi, saya Djoko Adi Walujo sebagai salah satu pendiri ISJ, mohon maaf, saya bersedia untuk mempertanggung jawabkan. Sekali lagi mohon maaf, dan perkenankan kami untuk membuat Pramuka Indonesia ber Performa Maxima.
Sebuah fenomena yang mengagetkan, ketika muncul sebuah komunitas, yang menaruh perhatian dengan niatan yang maha dahsyat. Satu niatan dengan jutaan harapan agar Pramuka tampil di dunia maya dalam Perfoma yang maxima. Harapan itu adalah, ketika beraktivitas, selalu terunggah dalam sosial media, kemudian terdokumentasi dengan sempurna. Ragam aktivitasnya masuk dalam unggahan yang berkualita cantik, sehingga mata dunia melirik. Ya semua anak didik Baden Powell yang ada di Nusantara tercinta ini, menjadi bahan bicara Pramuka dunia.

SERI PERINGATAN (4):
Buku yang membentangkan peringatan 75 tahun Kepanduan. Buku ini diterbitkan oleh Penerbitan Kwarnas. Isi menggambarkan perjalanan sejarah gerakan Kepramukaan.